Taksonomi Bloom dan Perkembangannya
Taksonomi yang dibuat untuk tujuan
pendidikan telah lama dikembangkan, dan tokoh yang begitu terkenal dengan
konsep taksonominya adalah Benjamin, S. Bloom. Sehingga taksonomi pendidikan
yang cetuskannya diabadikan dengan sebutan nama penemunya yaitu Taksonomi
Bloom.
Pada awalnya, Benjamin S. Bloom
menawarkan konsep taksonomi pendidikannya pada tahun 1948 di Boston. Dan
perkembangan selanjutnya, Bloom sendiri hanya mengembangkan cognitive domain
pada tahun 1956. Sedangkan affective domain dikembangkan oleh David
Krathwohl bersama dengan Bloom dan Bertram B. Masia (1964). Selanjutnya
disempurnakan lagi oleh Simpson (1972) dengan melengkapinya dengan psycho-motor
domain.
Secara teoritis,
menurut taksonomi Bloom ini, tujuan pendidikan dibagi ke dalam tiga domain,
yaitu:
a.
Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang
menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan,
pengertian, dan keterampilan berpikir.
b. Affective
Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek
perasaan dan emosi, seperti minat,
sikap,
apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
c.
Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang
menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang,
dan mengoperasikan mesin.
Beberapa istilah lain
yang juga menggambarkan hal yang sama dengan ketiga domain tersebut di
antaranya seperti yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara,
yaitu: cipta, rasa, dan karsa. Selain itu, juga dikenal
istilah: penalaran, penghayatan, dan pengamalan.
Dari setiap ranah
tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori dan subkategori yang
berurutan secara hirarkis (bertingkat), mulai dari tingkah laku yang sederhana
sampai tingkah laku yang paling kompleks. Tingkah laku dalam setiap tingkat
diasumsikan menyertakan juga tingkah laku dari tingkat yang lebih rendah,
seperti misalnya dalam ranah kognitif, untuk mencapai “pemahaman” yang berada
di tingkatan kedua juga diperlukan “pengetahuan” yang ada pada tingkatan
pertama.
Adapun taksonomi atau klasifikasi
dari ketiga ranah di atas adalah sebagai berikut:
A. Ranah
Kognitif (cognitive domain)
Ranah kognitif ini adalah yang
pertama kali dikembangkan oleh Bloom. Ranah kognitif adalah kemampuan yang
merupakan hasil kerja otak.
Bloom (1956) membagi ranah kognitif ini menjadi enam
tingkatan kemampuan yang tersusun secara hierarkis
mulai dari: pengetahuan, pemahaman,
penerapan, analisis,
sintesis, dan evaluasi. Artinya, ke enam tingkatan ini mulai dari, C1, C2, C3, C4, C5, dan C6 merupakan jenjang kemampuan mulai dari yang rendah sampai yang paling tinggi. Ranah ini
meliputi beberapa aspek, yaitu:

1) Pengetahuan (Knowledge)
Pengetahuan yaitu
kemampuan mengingat apa yang sudah dipelajari. Kemampuan ini berisi
tentang kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi,
fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar, dan sebagainya. Sebagai contoh, ketika diminta menjelaskan manajemen
kualitas, orang yang berada di level ini bisa menguraikan dengan baik definisi
dari kualitas, karakteristik produk yang berkualitas, standar kualitas minimum
untuk produk, dan sebagainya.
2) Pemahaman (Comprehension)
Pemahaman yaitu
kemampuan menangkap makna dari yang dipelajari. Dikenali
dari kemampuan untuk membaca dan memahami gambaran, laporan, tabel, diagram,
arahan, peraturan, dan sebagainya. Sebagai contoh, orang di level ini bisa memahami apa
yang diuraikan dalam fish bone diagram, pareto chart, dan sebagainya.
3) Penerapan (Application)
Penerapan
adalah kemampuan untuk menggunakan hal yang sudah dipelajari ke dalam sesuatu
yang baru dan konkrit. Di tingkat ini, seseorang memiliki
kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori, dan lain-lain di dalam kondisi kerja. Sebagai contoh, ketika diberi
informasi tentang penyebab meningkatnya
reject di produksi, seseorang yang berada di tingkat aplikasi akan mampu
merangkum dan menggambarkan penyebab turunnya kualitas dalam bentuk fish bone
diagram atau pareto chart.
4) Analisis (Analysis)
Analisis yaitu kemampuan untuk
memerinci hal yang dipelajari ke dalam unsur- unsurnya agar struktur
organisasinya dapat dimengerti. Di tingkat analisis, seseorang akan mampu
menganalisa informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi
ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan
mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah
skenario yang rumit. Sebagai contoh, di level ini seseorang akan mampu
memilah-milah penyebab meningkatnya reject, membanding-bandingkan tingkat
keparahan dari setiap penyebab, dan menggolongkan setiap penyebab ke dalam
tingkat keparahan yang ditimbulkan.
5) Sintesis (Synthesis)
Sintesis yaitu kemampuan untuk
mengaplikasikan bagian-bagian untuk membentuk satu kesatuan yang baru. Satu tingkat di atas analisa,
seseorang di tingkat sintesa akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari
sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau
informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yang dibutuhkan. Sebagai
contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas mampu memberikan solusi untuk menurunkan
tingkat reject di produksi berdasarkan pengamatannya terhadap semua penyebab
turunnya kualitas produk.
6) Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi yaitu kemampuan untuk menentukan nilai sesuatu yang dipelajari untuk suatu
tujuan tertentu. Dikenali
dari kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi,
dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yang ada untuk memastikan
nilai efektivitas atau manfaatnya.
B. Ranah
Afektif (affective domain)
Ranah Afektif adalah kemampuan yang
dimunculkan seseorang
dalam bentuk prilaku sebagai bagian dari dirinya.
Kemampuan tersebut erat kaitannya dengan kemampuan
seseorang untuk mengambil keputusan terhadap
nilai-nilai moral yang harus dimilikinya, kemampuan
dalam memberikan penilaian, dan bertingkah laku (bersikap). Untuk ranah afektif ini, Bloom bersama dengan Kratwohl mengklasifikasikan
ke dalam beberapa tahapan, yaitu:

1) Penerimaan (Receiving/Attending)
Kesediaan untuk menyadari adanya
suatu fenomena di lingkungannya. Dalam pengajaran bentuknya berupa mendapatkan
perhatian, mempertahankannya, dan mengarahkannya.
2) Tanggapan (Responding)
Memberikan reaksi terhadap fenomena
yang ada di lingkungannya. Meliputi persetujuan, kesediaan, dan kepuasan dalam
memberikan tanggapan.
3) Penghargaan (Valuing)
Berkaitan dengan harga atau nilai
yang diterapkan pada suatu objek, fenomena, atau tingkah laku. Penilaian
berdasar pada internalisasi dari serangkaian nilai tertentu yang diekspresikan
ke dalam tingkah laku.
4)
Pengorganisasian (Organization)
Memadukan nilai-nilai yang berbeda,
menyelesaikan konflik di antaranya, dan membentuk suatu sistem nilai yang
konsisten.
5) Pembentukan Pola Hidup (Characterization by a Value
or Value Complex)
Memiliki sistem nilai yang
mengendalikan tingkah-lakunya sehingga menjadi karakteristik gaya-hidupnya.
Krathwohl,
Bloom dan Masia (1964), membagi ranah afektif ini dalam lima tingkatan mulai
dari pengenalan, pemberian respon, penghargaan terhadap nilai-nilai,
peng-organisasian, dan pengalaman. Kelima tingkatan ini me-rupakan suatu proses
yang berkesinambungan untuk menghasilkan suatu nilai-nilai atau sikap tertentu
agar menjadi bagian dari diri seseorang. Kelima tingkatan ini merupakan suatu
proses yang berkesinambungan untuk menghasilkan suatu nilai-nilai atau sikap
tertentu agar menjadi bagian dari diri seseorang.

Berdasarkan pada kelima tingkatan
yang dirumuskan oleh Bloom dan Krathwool tersebut di atas, maka Romiszowski
dalam bukunya Producing Instruction System (1984), mengelompokkan aspek
afektif tersebut menjadi dua tipe prilaku yang berbeda, yaitu:
1)
Riflek yang terkondisi (refkexive conditional), yaitu reaksi kepada
stimuli khusus tertentu yang dilakukan secara spontan tanpa direncanakan lebih
dahulu tujuan reaksinya.
2)
Sukarela (voluntary) adalah aksi dan reaksi yang terencana untuk
mengarahkan ke tujuan tertentu dengan cara membiasakan dengan latihan-latihan
untuk mengontrol diri.
C.
Ranah Psikomotorik (Psychomotor
Domain)
Dalam rangkaian
kategorisasi taksonomi pendidikan Bloom sebenarnya bukanlah utuh pemikiran Bloom
semua. Akan tetapi adanya sumbangan pemikiran dan gagasan cemerlang lain dari
para pemikir dan para ahli pendidikan lainnya. Hal ini terlihat ketika pada
ranah afektif dalam taksonomi Bloom, Bloom bekerja sama dengan Kratwohl. Begitu
juga dengan karakteristik yang dimunculkan pada ranah psikomotorik, di sana
Bloom hanya sebagai peletak dasar taksonomi akan tetapi lebih jauh telah
dikembangkan oleh Simpson, Dave, dan
lain-lain.. Meski demikian, tetap saja taksonomi
ini begitu kental dengan peletak dasar gagasannya, yaitu Benjamin S. Bloom,
sehingga tidak heran jika sampai detik ini taksonomi
tersebut terkenal dengan sebutan Taksonomi Bloom.
Ranah psikomotor adalah
kemampuan yang dihasilkan
oleh
fungsi motorik manusia yaitu berupa keterampilan untuk melakukan
sesuatu. Keterampilan melakukan sesuatu tersebut, meliputi keterampilan
motorik, keterampilan intelektual, dan keterampilan sosial. Rincian
dalam domain ini tidak dibuat oleh Bloom, namun
dibuat oleh ahli lain tetapi tetap berdasarkan pada domain
yang dibuat Bloom. Ranah psikomotorik
ini dikembangkan oleh Simpson, dan klasifikasi ranah psikomotorik tersebut
adalah:
1)
Persepsi (Perception)
Penggunaan alat indera
untuk menjadi pegangan dalam membantu gerakan.
Persepsi ini mencakup kemampuan untuk mengadakan diskriminasi yang tepat antara
dua perangsang atau lebih, berdasarkan pembedaan antara ciri-ciri fisik yang
khas pada masing-masing rangsangan. Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam suatu
reaksi yang menunjukkan kesadaran akan hadirnya ransangan (stimulasi) dan
perbedaan antara seluruh rangsangan yang ada.
2)
Kesiapan (Set)
Kesiapan fisik, mental,
dan emosional untuk melakukan gerakan. Kesiapan mencakup kemampuan
untuk menempatkan dirinya dalam keadaan akan memulai suatu gerakan atau
rangakaian gerakan. Kemampuan ini dinyatakan dalam bentuk kesiapan jasmani dan
rohani.
3)
Guided Response (Respon Terpimpin)
Tahap awal dalam
mempelajari keterampilan yang kompleks, termasuk di dalamnya imitasi dan
gerakan coba-coba.
4)
Mekanisme (Mechanism)
Membiasakan
gerakan-gerakan yang telah dipelajari sehingga tampil dengan meyakinkan dan
cakap. Ini mencakup
kemampuan untuk melakukan suatu rangakaian gerakan dengan lancer karena sudah
dilatih secukupnya tanpa memperhatikan contoh yang diberikan.
5)
Respon Tampak Yang Kompleks (Complex Overt
Response)
Gerakan motoris yang
terampil yang di dalamnya terdiri dari pola-pola gerakan yang kompleks. Gerakan kompleks mencakup kemampuan
untuk melaksanakan suatu ketrampilan, yang terdiri atas beberapa komponen,
dengan lancar, tepat dan efisien. Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam suatu
rangkaian perbuatan yang berurutan dan menggabungkan beberapa subketrampilan
menjadi suatu keseluruhan gerak-gerik yang teratur.
6)
Penyesuaian (Adaptation)
Keterampilan yang sudah
berkembang sehingga dapat disesuaikan dalam berbagai situasi. Adaptasi ini mencakup kemampuan untuk
mengadakan perubahan dan menyesuaikan poila gerak-gerik dengan kondisi setempat
atau dengan menunjukkan taraf ketrampilan yang telah mencapai kemahiran.
7)
Penciptaan (Origination)
Membuat pola gerakan
baru yang disesuaikan dengan situasi atau permasalahan tertentu. Penciptaan
atau kreativitas adalah mencakup kemampuan untuk melahirkan aneka pola
gerak-gerik yang baru, seluruhnya atas dasar prakarsa dan inisiatif sendiri.
Selain
Sympson, Dave juga mengemukakan pendapat terkait domain psikomotor, Khusus
keterampilan motorik Dave (1967), membaginya dalam lima jenjang, yaitu:
peniruan, penggunaan, ketepatan, perangkaian, dan naturalisasi. Secara visual
jenjang keterampilan motorik tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.


1.
Peniruan (Imitation) adalah mengamati perilaku dan
pola setelah orang lain. Kinerja mungkin kualitas rendah.
2. Penggunaan (Manipulation) adalah mampu melakukan tindakan
tertentu dengan mengikuti instruksi dan berlatih.
3. Ketepatan (Precision) adalah mengulangi pengalaman serupa agar menuju perubahan yang
ke arah yang lebih baik.
4. Perangkaian (Articulation) adalah koordinasi serangkaian
tindakan, mencapai keselarasan dan konsistensi internal.
5.
Naturalisasi (Naturalitation):
Setelah kinerja tingkat tinggi menjadi alami, tanpa perlu berpikir banyak
tentang hal itu.
dapat di download di http://www.4shared.com/file/bPEGPR1h/Taksonomi_bloom_revisi.html
Nice ;)
ReplyDelete