Kamis, 16 Februari 2017

Perguruan Tinggi Butuh dan Harus Mendukung Dosen-Dosen Kreatif

Pada tulisan kali ini, saya akan memaparkan tentang kebutuhan perguruan tinggi Indonesia terhadap dosen-dosen kreatif. Menurut saya "Dosen kreatif ini bukan hanya kreatif untuk diri sendiri melainkan juga sikap kreatif tersebut untuk banyak orang, baik dari segi manfaatnya maupun untuk mempengaruhi tumbuhnya kreativitas tersebut bagi banyak orang" Dalam hal ini saya ingin menyebutkan kriteria dari sikap kreatif ini yakni pandai mencari serta membuat/menciptakan sesuatu inovasi yang bermanfaat bagi banyak orang. Inovasi itu dilakukan dalam pendidikannya, mengajar, melakukan riset maupun  pengabdian masyarakat. Inovasi dalam pendidikannya tentunya dosen tersebut mengembangkan keilmuannya dan berusaha membuat sesuatu yang dapat menjawab tantangan zaman. Inovasi dalam mengajar tentunya dosen dapat kreatif mencari suatu cara untuk mencegah kebosanan mahasiswa terhadap materi dan mengembangkan ide-ide yang dapat memacu minat mahasiswa dalam menciptakan sesuatu seperti kamus online bahasa daerah contohnya bahasa dayak desa-indonesia, pengembangan perangkat dalam mengajar dan sebagainya. Berkaitan hal ini dosen kreatif menemukan cara yang aktif juga reaktif pada mahasiswa, artinya menganggap mahasiswa bukan hanya yang diajar namun juga tempat berbagi dan bertukar pemikiran. Sebab kadang kalanya mahasiswa juga memiliki pemikiran yang lebih baik dari dosen. Selanjutnya "Dalam pengabdian masyarakat dosen perlu mengembangkan ide kreatifnya untuk membangun dan menggerakkan dan memberikan solusi nyata bagi masyarakat," sebagai contohnya: dalam rangka mendukung ketertiban dan keamanan, dosen bisa saja memberikan ide pelaksanaan jam wajib belajar, dan di dalam menyukseskan program tersebut dosen juga mengaktifkan mahasiswanya untuk melakukan pendampingan terhadap masyarakat. "Dalam bidang penelitian, dosen wajib mendapatkan dan menghasilkan penemuan yang berbeda dan berinovasi menjadi kunci dosen kreatif," Selain itu dosen kreatif tidak menyerah saat mengalami hambatan, justru mendongkrak hambatan itu menjadi peluang. Singkatnya, dosen wajib berpikir selalu ada cara untuk mengembangkan segala aktivitas pengembangan dirinya dalam pendidikan, pengajaran, penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat. Sebagai saran untuk perguruan tinggi, hendaknya selalu berusaha mendukung aktivitas dosen dengan dukungan moril, materil, fisik, finansial maupun segala sesuatu yang dosen perlukan karena ketika modal untuk mendukung aktivitas dosen kreatif tersebut dikeluarkan sudah banyak, hasilnya pasti akan muncul MUTU atau KUALITAS dari dosen kreatif tersebut, percayalah akan ada INCOME yang sesuai dari kerja keras tersebut.

Rabu, 25 Januari 2017

Pengenalan PEKERTI bagi dosen

Program Peningkatan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional (PEKERTI) merupakan pelatihan pengembangan profesionalisme dosen yang diselenggarakan DIKTI sejak tahun 1987 yang diperuntukan bagi dosen-dosen pemula . Applied Approach (AA) merupakan kelanjutan program untuk dosen senior sebagai program penyegaran. Mulai tahun 2005 DIKTI melalui PAU-PPI UT selaku koordinator penyelenggaraan PEKERTI-AA telah merekonstruksi kurikulum PEKERTI dan AA. Hasil rekonstruksi telah dipublikasikan melalu Buletin PEKERTI-AA pada tahun 2007. Hasil rekonstruksi menetapkan Pelatihan PEKERTI-AA sebagai pelatihan tunggal dan terpadu bukan lagi pelatihan terpisah.

Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan–teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat. Dosen sebagai tenaga pendidikan, juga sebagai tenaga professional yang bertugas mencakup kegiatan pokok, yaitu perencanaan, pelaksanaan proses, penilaian hasil pembelajaran, pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian. Di samping itu melaksanakan tugas tambahan dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk itu sewajarnyalah profesionalitas dosen, harus terkait dan dibangun melalui penguasaan kompetensi-kompetensi yang secara nyata dalam menjalankan dan menyelesaikan tugas-tugas dan aktivitasnya sebagai dosen, sehingga dosen dapat menghadapi arus globalisasi dengan efektif dan tanpa ‘ketidakberdayaan’. Dalam hal ini upaya pengembangan diri menjadi dosen yang profesional itu dilakukan mengacu kepada penguasaan materi pembelajaran, pendidikan dan pembelajaran, Secara operasional, upaya-upaya pengembangan diri itu berupa pelaksanaan tanggung jawab Tridarma Perguruan Tinggi. Perlunya peningkatan profesionalisme dosen, karenanya dosen harus mampu memberikan dampak positif terhadap perguruan tinggi dan mengubah pendekatan instruksional dari teaching university menjadi learning university. Atas dasar kesadaran akan pentingnya profesionalisme dosen tersebut, dan perlunya mengembangkan diri menjadi dosen di perguruan tinggi yang profesional. Maka kebutuhan Peningkatan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional (PEKERTI-AA), sangat dirasakan pentingnya bagi dosen untuk meningkatkan penguasaan kemampuan instruksional. Dosen seharusnya sudah terampil dalam pembelajaran, sehingga mereka tidak lagi mengajar semaunya. Di samping itu dengan program ini akan mendorong para dosen untuk menjadi kompeten, sesuai dengan tuntutan perkembangan teknologi pendidikan dan pembelajaran di era glogal ini.