Monday, June 2, 2014

Metode Pembelajaran yang Berpusat Pada Siswa

Rasyid Redha, dkk

Metode-metode dalam pembelajaran yang lebih berpusat pada siswa
1.      Metode Kerja Kelompok
a. Pengertian
Metode kerja kelompok adalah cara pembelajaran dimana siswa didalam kelas dibagi dalam beberapa kelompok yang dipandang sebagai satu kesatuan tersendiri untuk mempelajari materi pelajaran yang telah ditetapkan untuk diselesaikan secara bersama.
b. Tujuan :
Tujuan dalam penggunaan metode kerja kelompok dalam suatu strategi pembelajaran yaitu :
1). Memecahkan masalah pembelajaran melalui proses kelompok.
2). Mengembangkan kemampuan bekerjasama dalam kelompok.
c. Alasan :
Alasan penggunaan metode kerja kelompok yaitu:
1). Kerja kelompok dapat mengembangkan perilaku gotong royong
2). Kerja kelompok dapat memacu siswa aktif belajar
3). Kerja kelompok tidak membosankan siswa melakukan kegiatan belajar.
2.      Metode Karya Wisata
a. Pengertian
Metode karya wisata atau studi wisata sebagai metode pembelajaran adalah siswa dibawah bimbingan guru mengunjungi tempat-tempat tertentu dengan maksud mempelajari objek belajar yang terjadi ditempat tersebut.
b. Tujuan :
Tujuan karya wisata sebagai metode pembelajaran adalah untuk :
1)      Mengkaji materi pembelajaran tertentu sebagaimana direncanakan dalam kurikulum/silabus.
2)      Melengkapi materi pelajaran yang tertulis dibuku sehingga pemahaman siswa menjadi lebih jelas dan kongkrit.


3)      Memupuk rasa cinta lingkungan, daerah, tanah air, dan penghargaan terhadap pahlawan serta pemimpin yang berjasa dimasa lampau.
c. Alasan :
Alasan menggunakan metode karya wisata adalah :
1)      Memvariasikan penggunaan metode pembelajaran agar siswa termotivasi.
2)      Dengan karya wisata siswa berkembang rasa kebersamaannya, tanggung jawabnya, dan toleransinya.
3)      Penguasaan materi yang dipelajari secara langsung melalui karya wisata akan lebih cepat dikuasai dan lama diingat.
3.      Metode Penemuan (discovery)
a. Pengertian
Penemuan diartikan sebagai prosedur pembelajaran yang mementingkan pembelajaran perseorangan, manipulasi objek, melakukan percobaan, sebelum sampai ke generalisasi. Metode penemuan mengutamakan cara belajar siswa aktif (CBSA).
b. Tujuan :
Tujuan penggunaan metode ini antara lain:
1)      Untuk memperoleh metode pembelajaran yang sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
2)      Untuk mengaktifkan siswa belajar (CBSA) sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran.
3)      Untuk memvariasikan metode pembelajaran yang digunakan agar siswa tidak bosan.
4)      Agar siswa dapat menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, dan memecahkan sendiri masalah yang dipelajari, sehingga hasilnya tahan lama dalam ingatan/tidak mudah dilupakan.
c. Alasan :
Alasan menggunakan metode ini :
1)      Memungkinkan untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif.
2)      Pengetahuan yang ditemukan sendiri melalui metode penemuan akan betul-betul dikuasai dan mudah digunakan / ditransfer dalam situasi lain.
3)      Siswa dapat menguasai salah satu metode ilmiah yang sangat berguna dalam kehidupannya.
4)      Siswa dibiasakan berfikir analitis dan mencoba memecahkan masalah yang akan ditransfer dalam kehidupan masyarakat.
4.      Metode Eksperimen
a. Pengertian
Eksperimen adalah percobaan untuk membuktikan suatu pertanyaan atau hipotesis tertentu. Eksperimen dapat dilakukan pada suatu laboratorium sedangkan metode eksperimen dalam pembelajaran dalah cara penyajian bahan pembelajaran yang memungkinkan siswa melakukan percobaan untuk membuktikan sendiri suatu pertanyaan atau hipotesi yang dipelajari.
b. Tujuan :
Metode eksperimen bertujuan agar :
1)       Siswa mamapu menyimpulkan fakta, informasi atau data yang diperoleh.
2)       Siswa mamapu merancang, mempersiapkan, melaksanakan dan melaporkan percobaannya.
3)       Siswa mampu menggunakan logika berpikir induktif untuk menarik kesimpulan dari fakta, informasi atau data yang dikumpulkan melalui percobaan.
4)       Siswa mampu berpikir sistematis, disiplin tinggi, hidup teratur dan rapi.
c. Alasan :
Alasan menggunakan metode eksperimen :
1)       Dapat menumbuhkan cara berpikir rasionaldan ilmiah.
2)       Dapat memungkinkan siswa belajar secara aktif dan mandiri.
3)       Dapat mengembangkan sikap dan perilaku kritis, tidak mudah percaya sebelum ada bukti-bukti nyata.
5.      Metode Pembelajaran Unit
a. Pengertian
Metode pembelajaran unit adalah suatu cara pembelajaran dimana siswa dan guru mrngarahkan segala kegiatannya pada suatu pemecahan masalah yang dipelajari.

b. Tujuan :
Metode ini bertujuan :
1)       Melatih siswa berpikir komprehensif dengan cara mengkaji dan memecahkan masalah dari berbagai disiplin ilmu.
2)       Melatih siswa menggunakan ketrampilan proses atau metode ilmiah dalam pemecahan masalah.
3)       Membentuk sikap kritis, kerjasama, rasa ingin tahu, menghargai waktu, dan menghargai pendapat orang lain.
4)       Melatih siswa agar memiliki kemampuan merencanakan, mengorganisasikan, dan memimpin suatu kegiatan.
5)       Mengembangkan ketrampilan berkomunikasi.
c. Alasan :
Alasan menggunakan metode pembelajaran unit adalah :
1)        Dalam kurikulum terdapat keterkaitan antara satu topik dengan topik yang lain dalam suatu pemecahan masalah, sehingga perlu ada satu metode yang dapat menciptakan kesatuannya.
2)        Dapat memberikan pengalaman belajar tentang pemecahan masalah dari berbagai disiplin ilmu.
3)        Dapat melibatkan peserta didik secara fisik maupun psikis.
6.      Metode Pembelajaran dengan modul
a. Pengertian
Modul adalah suatu paket pembelajaran yang membicarakan satu satuan konsep tunggal mata pelajaran. Jadi yang dimaksud dengan Metode pembelajaran modul merupakan salah satu bentuk dari bentuk-bentuk belajar mandiri.
b. Tujuan
Metode pembelajaran dengan modul bertujuan :
1)       Agar siswa aktif belajar secara mandiri.
2)       Agar siswa terbiasa mengontrol kecepatan dan mengevaluasi belajarnya sendiri.
3)       Memberikan reinforcement secepatnya setelah siswa selesai mengerjakan materi modul dengan memperbolehkan pindak ke modul berikutnya.
4)       Melatih disiplin, taat peraturan dan petunjuk yang ada, serta melatih kebiasaan mengoreksi diri sendiri dan kejujuran.
c. Alasan :
Alasan menggunakan metode pembelajaran dengan modul :
Agar siswa dapat belajar dengan aktif dan mandiri (CBSA).
1)       Siswa dapat menyesuaikan diri dengan keunikan cara belajar masing-masing.
2)       Siswa dapat berkembang secara optimal.
3)       Dimungkinkan untuk mendukung modul digunakan multi media, seperti audio visual, internet, dsb.
4)       Dengan metode pembelajaran dengan modul mutu proses pembelajaran dapat ditingkatkan.

2.2 Kelebihan dan kekurangan dari masing-masing metode yang ada dan cara mengatasi kelemahannya
1. Metode Kerja Kelompok
a. Kelebihan :
1)      Membiasakan siswa bekerjasama, musyawarah, dan bertanggung jawab.
2)      Menimbulkan kompetisi yang sehat antar kelompok.
3)      Guru dipermudah tugasnya karena tugas kerja kelompok cukup pisampaikan kepada para ketua kelompok.
4)      Ketua kelompok dilatih menjadi pemimpin yang bertanggung jawab dan anggotanya dibiasakan patuh pada aturan yang ada.
b. Kelemahan :
1)      Sulit membentuk kelompok yang homogen baik segi minat, bakat, prestasi, maupun intelegensi.
2)      Pemimpin kelompok sering sukar untuk memberikan pengertian kepada anggota, menjelaskan dan pembagian kerja.
3)      Anggota kadang tidak mematuhi tugas-tugas yang diberikan pemimpin kelompok.
4)      Dalam menyelesaikan tugas, sering menyimpang dari rencana karena kurang dikontrol oleh pemimpin kelompok dan guru.
5)      Sulit membuat tugas yang sama sulit dan luasnya terutama bagi kerja kelompok yang komplementer.
c. Cara mengatasi kelemahan metode kerja kelompok :
1)      Mengkaji lebih terlebih dahulu materi pelajaran dengan cermat, kemudian buat garis besar rincian tugasnya untuk setiap kelompok agar bobot tugas tersebut sama beratnya.
2)      Bimbingan dan pengawasan kepada setiap kelompok harus dilakukan terus menerus.
3)      Jumlah anggota dalam satu kelompok jangan terlalu banyak.
4)      Motivasi yang diberikan jangan sampai menimbulkan persaingan antar kelompok yang kurang sehat.
2. Metode Karya Wisata
a. Kelebihan :
1)      Siswa dapat belajar secara langsung dilapangan sehingga pengetahuan yang diperoleh nyata, hidup, dan bermakna.
2)      Siswa dapat menemukan sendiri jawaban dari masalah.
3)      Motivasi dan minat belajar siswa tinggi.
4)      Guru diperingan tugasnya dalam menyampaikan materi pelajaran, karena materi disampaikan oleh narasumber atau observasi langsung oleh siswa sendiri.
5)      Siswa aktif belajar melalui observasi, wawancara, percobaan, dan menggolong-golongkan.
b. Kelemahan :
1)      Memerlukan kesiapan yang melibatkan banyak pihak.
2)      Memerlukan waktu yang yang cukup lama.
3)      Memerlukan biaya yang relatif tinggi.
4)      Memerlukan pengawasan ketat agar siswa fokus kepada tugasnya.
5)      Laporan hasil karya wisata biasanya diserahkan tidak tepat waktu.

c. Cara mengatasi kelemahan metode karya wisata :
1)      Tentukan secara jelas tugas-tugas yang sewaktu karya wisata dan sesudah karya wisata.
2)      Pilih waktu libur untuk melaksanakan karya wisata.
3)      Rencanakan pembiayaan jauh sebelum karya wisata itu dilaksanakan.
4)      Buat tata tertib pelaksanaan karya wisata secara jelas dan dikomunikasikan secepatnya kepada siswa.
3. Metode Penemuan (discovery)
a. Kelebihan :
1)      Siswa belajar melalui proses penemuan.
2)      Pengetahuan yang diperoleh melalui penemuan sangat kokoh.
3)      Metode penemuan membangkitkan gairah siswa dalam belajar.
4)      Metode ini menyebabkan siswa mengarahkan sendiri cara belajarnya sehingga ia merasa lebih terlibat dan termotivasi sendiri untuk belajar.
5)      Metode ini berpusat pada anak, dan guru sebagai teman belajar atau fasilitator.
b. Kelemahan :
1)      Metode ini mempersyaratkan kesiapan mental, dalam arti siswa yang pandai akan memonopoli penemuan dan siswa yang bodoh akan frustasi.
2)      Metode ini kurang berhasil untuk kelas besar karena habis guru untuk membantu siswa dalam kegiatan penemuan.
3)      Metode ini terlalu mementingkan untuk memperoleh pengertian, sebaliknya kurang memperhatikan diperolehnya sikap dan ketrampilan.
4)      Metode ini kurang memberi kesempatan untuk berpikir kreatif karena pengertian-pengertian yang akan ditemukan telah diseleksi oleh guru, begitu pula proses-prosesnya dibawah pembinaannya.
c. Cara mengatasi kelemahan metode penemuan :
1)      Bentuklah kelompok-kelompok kecil yang anggotanya terdiri dari siswa pandai dan siswa kurang pandai, agar siswa yang pandai bisa membimbing siswa yang kurang pandai.
2)      Metode penemuan untuk IPA dapat pula dilakukan diluar kelas sehingga tidak memerlukan fasilitas atau bahan yang mahal.
3)      Mulailah dengan penemuan terbimbing, kemudian jika siswa sudah terbiasa dengan metode ini maka gunakanlah metode penemuan bebas, agar siswa benar-benar dapat berkembang berpikir kreatifnya.
 4. Metode Eksperimen
a. Kelebihan :
1)      Membuat siswa percaya pada kebenaran kesimpulan percobaannya sendiri daripada menurut cerita orang atau buku.
2)      Siswa aktif mengumpulkan fakta, informasi atau data yang diperlukan melalui percobaan yang dilakukannya.
3)      Dapat digunakan untuk melaksanakan prosedur metode ilmiah dan berpikir ilmiah.
4)      Hasil belajar dikuasai siswa dengan baik dan tahan lama dalam ingatan.
b. Kekurangan :
1)      Memerluakn peralatan dan bahan percobaan yang lengkap serta umumnya mahal.
2)      Dapat menghambat lajunya pembelajaran sebab eksperimen umumnya menggunakan waktu lama.
3)      Kesalahan dalam eksperimen akan berakibat pada kesalahan kesimpulannya.
4)      Belum tentu semua guru dan siswa menguasai metode eksperimen.
c. Cara mengatasi kekurangan metode eksperimen :
1)      Guru harus menjelaskan secara rinci hasil yang ingin dicapai dengan eksperimen.
2)      Guru harus menjelaskan prosedur eksperimen, bahan-bahan eksperimen yang diperlukan, peralatan yang diperlukan dan cara penggunaannya, variable yang dikontrol, dan hal yang perlu dicatat selama eksperimen.
3)      Meminta setiap siswa melaporkan proses dan hasil eksperimennya.

5. Metode Pembelajaran Unit
a. Kelebihan :
1)      Siswa dapat belajar secara keseluruhan.
2)      Pelajaran menjadi lebih berarti.
3)      Situasi kelas lebih demokratis.
b. Kelemahan :
1)      Memilih pokok masalah yang akan dijadikan unit bukan suatu pekerjaan yang mudah.
2)      Melaksanakan pembelajaran unit menuntut kecakapan sendiri.
3)      Memerlukan ketekunan, pekerjaan dan waktu yang lebih banyak.
4)      Melibatkan banyak siswa maka memerlukan biaya yang lebih banyak.
c. Cara mengatasi kekurangan metode pembelajaran unit :
1)      Kesulitan dalam memilih pokok masalah dapat diatasi dengan cara membentuk tim atau panitia.
2)      Kesulitan guru karena dalam pembelajaran unit diperlukan banyak waktu, energi dan biaya.
6. Metode Pembelajaran dengan modul
a. Kelebihan :
1)      Siswa aktif  belajar secara mandiri.
2)      Meningkatkan kualitas hasil belajar.
3)      Siswa termotivasi untuk belajar dengan sungguh-sungguh.
b. Kelemahan :
1)      Ikatan kelas renggang, belajar bersama kurang, padahal  motivasi belajar dipengaruhi oleh kebersamaan.
2)      Kesulitan dalam menulis modul.
3)      Pembelajaran dengan modul umumnya kurang memperhatikan aspek perasaan.
4)      Cenderung untuk memuat materi yang banyak dalam modul, sehingga memberatkan siswa.


c. Cara mengatasi kelemahan matode pembelajaran dengan modul :
1)      Perlu dibuat modul yang penguasaannya dilakukan melalui diskusi atau kerja kelompok.
2)      Modul harus disusun oleh orang yang ahli bidang mata kuliah juga berpengalaman dalam menulis modul.
3)      Materi harus disusun berdasarkan kompetensi yang ingin dicapai.
4)      Bahasa yang digunakan  hendaknya bahasa baku, yaitu bahasa Indonesia yang baik dan benar.
2.3 Langkah-langkah pembelajaran dari masing-masing metode
1. Langkah-langkah pembelajaran dengan metode kerja kelompok.
a)      Kegiatan persiapan
ü  Merumuskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai
ü  Menyiapkan materi pembelajaran dan menjabarkan materi tersebut kedalam tugas-tugas kelompok
ü  Mengidentifikasi sumber-sumber yang akan menjadi sasaran kegiatan kerja kelompok
ü  Menyusun peraturan pembentukan kelompok, cara kerja, tata tertibnya, dll.
2. Kegiatan pelaksanaan
a). Kegiatan membuka pelajaran
ü  Melaksanakan apersepsi, yaitu pertanyaan tentang materi pembel;ajaran sebelumnya
ü  Memotivasi belajar dengan mengemukakan kasus yang berkaitan dengan materi pelajaran yang akan dijabarkan
ü  Mengemukakan tujuan pembelajaran dan berbagai kegiatan yang akan dikerjakan dalam mencapai tujuan pelajaran tersebut
b). Kegiatan inti pelajaran
ü  Mengemukakan lingkup materi yang akan dipelajari
ü  Membentuk kelompok
ü  Mengemukakan tugas setiap kelompok kepada ketua kelompok atau langsung kepada semua siswa
ü  Mengemukakan peraturan dan tata tertib saat memulai dan mengakhiri kegiatan kerja kelompok
ü  Mengawasi, memonitor, dan bertindak sebagai fasilitator selama siswa melakukan kerja kelompok
c). Kegiatan akhir pelajaran
ü  Meminta siswa merangkum isi pelajaran yang telah dikaji melalui kerja kelompok
ü  Melakukan evaluasi hasil dari proses
ü  Melaksanakan tindak lanjut
2. Langkah-langkah pelaksanaan metode karya wisata dalam pembelajaran
a)      Kegiatan persiapan
ü  Merumuskan tujuan pembelajaran
ü  Menyiapkan materi pembelajaran yang sesui dengan silabus/kurikulum yang ada
ü  Melakukan studi awal ke lokasi sasaran karya wisata
ü  Menyiapkan skenario pelaksanaan karya wisata
b)      Kegiatan pelaksanaan karya wisata
1)      Kegiatan pembukaan
ü  Mengingatkan kembali pelajaran yang diberikan melalui kegiatan apersepsi
ü  Memotivasi siswa dengan membuat kaitan materi pelajaran yang akan dipelajari dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di masyarakat atu melalui pertanyaan-pertanyaan
ü  Mengemukakan tujuan pelajaran yang akan dipelajari dan kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan selama karya wisata
ü  Mengemukakan tata tertib selama karya wisata   
2)      Kegiatan inti
ü  Melakukan observasi terhadap objek sasaran belajar, lalu mendeskripsikannya dalam bentuk kalimat, mengambil gambar, dsb.
ü  Mewawancarai narasumber dan mencatat informasi yang disampaikan secara lisan oleh narasumber
ü  Sesuai dengan skenario yang disiapkan guru, dapat diselenggarakan seminar atau diskusi dengan narasumber, pejabat yang relevan.
c). Kegiatan penutup
ü  Menyuruh siswa melaporkan hasil karya wisata dan membuat rangkuman
ü  Melakukan evaluasi proses dan hasil karya wisata
ü  Melakukan tindak lanjut, berupa tugas yang sifatnya memperkaya hasil karya wisata
3. Langkah-langkah pelaksanaan metode penemuan
1)      Kegiatan persiapan
ü  Mengidentifikasi belajar siswa
ü  Merumuskan tujuan pembelajaran
ü  Menyiapkan problem yang akan dipecahkan
ü  Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan
2)      Kegiatan pelaksanaan penemuan
a)      Kegiatan pembukaan
Melakukan apersepsi, yaitu mengajukan pertanyaan mengenai materi pelajaran yang telah diajarkan
ü  Memotivasi siswa dengan cerita pendek yang ada kaitannya dengan materi yang diajarkan
ü  Mengemukakan tujuan pembelajaran dan kegiatan / tugas yang dilakukan untuk melakukan tujuan pembelajaran
b)      Kegiatan inti
ü  Mengemukakan problema yang akan dicari jawabannya melalui kegiatan penemuan
ü  Diskusi pengarahan tentang cara pelaksanaan penemuan / pemecahan problema yang telah ditetapkan
ü  Membantu siswa dengan informasi atau data, jika diperlukan siswa
ü  Membantu siswa melakukan analisis data hasil penemuan
ü  Merangsang terjadinya interaksi antar siswa dengan siswa
ü  Memberi kesempatan siswa melaporkan hasil penemuan

c)      Kegiatan penutup
ü  Meminta siswa merangkum hasil-hasil penemuannya
ü  Melakukan evaluasi hasil dan proses penemuan
ü  Melakukan tindak lanjut, yaitu meminta siswa melakukan penemuan ulang  jika ia belum menguasai materi, dan meminta siswa mengerjakan tugas pengayaan bagi siswa yang telah melakukan penemuan dengan baik 
4.    Langkah-langkah pelaksanaan metode Eksperimen
1)      Kegiatan persiapan
ü  Merumuskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan metode eksperimen
ü  Menyiapkan materi pembelajaran yang diajarkan melalui eksperimen
ü  Menyipkan alat, sarana, dan bahan yang diperlukan dalam eksperimen
ü  Menyiapkan panduan prosedur panduan eksperimen, termauk lembar kerja siswa
2)      Kegiatan pelaksanaan eksperimen
a)      Kegiatan pembukaan
ü  Menanyakan meteri pelajaran yang telah diajarkan minggu lalu atau observasi
ü  Memotivasi siswa dengan mengememukakan cerita yang berkaitan dengan pelajaran yang diajarkan
ü  Mengemukakan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, dan prosedur eksperimen yang akan dilakukan
b)      Kegiatan inti
ü  Siswa diminta membantu menyiapkan alat dan bahan yang akan dipakai dalam eksperimen
ü  Siswa melekukan eksperimen berdasarkan panduan dan LKS yang telah disiapkan guru
ü  Guru memonitor dan membantu siswa yang mengalami kesulitan
ü  Pelaporan hasil eksperimen dan diskusi balikan
c)      Kegiatan penutup
ü  Meminta siswa untuk merangkum hasil eksperimen
ü  Guru mengadakan evalusi hasil dan proses eksperimen
ü  Tindak lanjut, yaitu meminta siswa yang belum menguasai materi untuk mengulang lagi eksperimennya
5.     Langkah-langkah  metode pembelajaran Unit
1)      Kegiatan persiapan
ü  Menjelaskan kepada siswa tentang bagaimana melaksanakan pembelajaran dengan metode unit
ü  Guru bersama siswa menetapkan pokok masalah yang akan dijadikan bahan unit
ü  Guru bersama siswa menetapkan tujuan instruksional khusus untuk setiap aspek masah
ü  Guru dan siswa menetapkan kelompok atau organisasi kelas dan  jadwal kegiatan
2)      Kegiatan pelaksanaan pembelajaran unit
a)      Kegiatan pembukaan
ü  Guru menanyakan materi sebelumnya
ü  Guru bercerita tentang kehidupan dimasyarakat yang berkaitan dengan materi pelajaran yang diajarkan
b)      Kegiatan inti
ü  Para siswa tenpat mereka belajar, apakah di dalam kelas ataupun di luar kelas
ü  Siswa mengadakan diskusi, mengatur bahan, dan berkoordinasi dengan kelompok lain
ü  Laporan kelompok berbentuk lisan dan tertulis
ü  Pameran . Setelah laporan kelompok selesai maka diadakan pameran, yaitu semua hasil kelompok.
c)      Kegiatan penutup
ü  Guru meminta siswa merangkum hasil belajar
ü  Melakukan evaluasi hasil belajar dan evaluasi proses pelaksanaan pembelajaran
ü  Tindak lanjut, yaitu menjelaskan kembali materi pelajaran yang belum dikuasai siswa dan pemberian PR
3)    Langkah-langkah  metode pembelajaran dengan Modul
a)      Kegiatan persiapan
ü  Guru menyiapkan modulyang akan dipelajari oleh siswa dan berbagai media pendukungnya
ü  Guru membaca modul yang akan diajarkan
b)      Kegiatan pelaksanaan pembelajaran unit
(1)      Kegiatan pembukan
ü  Kegiatan guru menanyakan isi materi modul yang telah diselesaikan
ü  Guru memotisivasi siswa dengan pertanyaan-pertanyan atau cerita.
ü  Guru cukup memberi petunjuk untuk membaca tujuan pembelajaran yang ada di dalam modul
(2)      Kegiatan inti
ü  Guru meminta siswa menyiapkan dan mempelajai modul
ü  Guru mengawasi kegiatan belajar siswa
ü  Guru sebagai fasilitator membantu siswa memecahkan kesulitan belajar
(3)      Kegiatan penutup
ü  Memberi kesmepatan siswa membuat rangkuman pokok-pokok materiyang dipelajari dari modul
ü  Evaluasi telah dilaksanakan sewaktu mempelajari modul
ü  Tindak lanjut, berupa PR
2.4 Karakteristik guru dalam pembelajaran yang lebih berpusat pada siswa
Guru-guru yang cenderung menggunakan pembelajaran yang berpusat pada siswa memiliki karakteristik umum yang menjadikan mereka menjadi guru-guru yang efektif. Secara umum, karakteristik guru yang menggunakan pembelajaran yang berpusat pada siswa adalah :
a.     Mengakui dan menghargai keunikan masing-masing siswa dengan cara mengakomodasi pemikiran siswa, gaya belajarnya, tingkat perkembangannya, kemampuan, bakat, persepsi diri, serta kebutuhan akademis dan non akademis siswa.
b.    Memahami bahwa pembelajaran adalah suatu proses kontruktivis, oleh karena itu harus diyakinkan bahwa siswa diminta untuk mempelajari sesuatu yang relevan dan bermakna bagi diri mereka. Selain itu juga mencoba mengembangkan pengalaman belajar dimana siswa dapat secara aktif menciptakan dan membangun pengetahuannya sendiri serta mengkaitkan apa yang sudah diketahuinya dengan pengalaman yang diperoleh.
c.    Menciptakan iklim pembelajaran yang positif dengan cara memberikan kesempatan pada siswa untuk berbicara dengannya secara personal, memahami siswa dengan sebaik-baiknya, menciptakan lingkungan yang nyaman dan menstimulasi bagi siswa, memberikan dukungan pada siswa, mengakui dan menghargai siswa.
d.    Memulai pembelajaran dengan asumsi dasar bahwa semua siswa dengan kondisinya masing-masing bersedia untuk belajar dan ingin melakukan dengan sebaik-baiknya, serta memiliki minat intrinsik untuk memperkaya kehidupannya.

            Guru-guru yang menggunakan pembelajaran yang lebih berpusat pada siswa cenderung menciptakan lingkungan pembelajaran dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1.      Suasana kelas yang hangat, mendukung. Dalam suasana ini, guru mengijinkan siswa untuk mengenalnya dan selanjutnya akan menyukainya. Kalau guru disukai oleh siswa, maka siswa akan bersedia bekerja keras untuk orang yang disukainya.
2.      Para siswa diminta untuk hanya mengerjakan pekerjaan yang bermanfaat. Guru harus menjelaskan manfaat apa yang akan diperoleh siswa jika mereka mengarjakan apa yang diminta oleh guru.
3.      Para siswa selalu diminta untuk mengerjakan yang terbaik yang dapat mereka lakukan. Kondisi kualitas pekerjaan termasuk didalamnya adalah pengetahuan siswa tentang gurunya dan apa yang diharapkan serta keyakinannya bahwa guru mrmberikan kepedulian untuk membantunya.
4.      Para siswa diminta untuk mengevaluasi pekerjaannya. Evaluasi diri diperlukan untuk menilai kualitas pekerjaan yang telah dilakukan oleh para siswa, berdasarkan hasil evaluasi itulah siswa mengetahui bagaimana pekerjaannya serta dapat mengulangi prosesnya sampai kualitas terbaik dapat dicapai.
5.      Kualitas pekerjaan yang baik selalu menimbulkan perasaan senang. Para siswa merasa senang ketika mereka menghasilkan pekerjaan yang berkualitas baik. 



Friday, May 23, 2014

aspek-aspek keterampilan dalam pendidikan bahasa

Dwi Cahyadi Wibowo, dkk

A.  Hakikat Keterampilan Bahasa
Keterampilan bahasa ada empat aspek, yaitu keterampilan berbicara, menyimak, menulis, dan membaca. Dalam berbicara, si pengirim pesan mengirimkan pesan dengan menggunakan bahasa lisan. Kemudian, dalam menyimak si penerima pesan berupaya memberi makna terhadap bahasa lisan yang disampaikan orang lain. Selanjutnya, dalam menulis si pengirim pesan mengirimkan pesan dengan menggunakan bahasa tulis. Dipihak lain, dalam membaca si penerima pesan berupaya memberikan makna terhadap bahasa tulis yang disampaikan orang lain.
Dalam mengirimkan pesan, antara lain si pengirim harus memiliki keterampilan dalam melakukan proses encoding. Sebaliknya dalam menerima pesan si penerima harus memiliki keteramplilan dalam melakukan proses decoding.
Keterampilan berbahasa bermanfaat dalam melakukan interaksi komunikasi dalam masyarakat. Banyak profesi dalam kehidupan bermasyarakat yang keberhasilannya, antara lain tergantung pada tingkat keterampilan berbahasa yang dimiliki oleh seseorang, misalnya profesi sebagai manager, jaksa, pengacara, guru, dan wartawan.
Ada 4 aspek keterampilan berbahasa Indoneia yaitu mendengar (menyimak), berbicara, membaca, dan menulis. Mendengarkan dan berbicara merupakan aspek keterampilan berbahasa ragam lisan, sedangkan membaca dan menulis merupakan keterampilan berbahasa ragam tulis. Mendengarkan dan membaca adalah keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif, sedangkan berbicara dan menulis bersifat produktif. Untuk menguasai keempat jenis keterampilan berbahasa tersebut seseorang harus menguasai sejumlah keterampilan mikro.
Berbicara dan mendengarkan adalah dua jenis keterampilan berbahasa lisan yang sangat erat kaitannya. Berbicara bersifat produktif sedangkan


mendengarkan bersifat reseptif. Dua jenis keterampilan berbahasa lainnya, yaitu menulis dan membaca. Keduanya merupakan jenis keterampilan berbahasa ragam tulis. Menulis merupakan kegiatan berbahasa yang bersifat produktif, sedangkan membaca bersifat reseptif.
Dalam pemerolehan atau belajar suatu bahasa, keterampilan berbahasa jenis reseptif tampak banyak mendukung pemerolehan bahasa jenis produktif. Dalam suatu peristiwa komunikasi sering kali beberapa jenis keterampilan berbahasa digunakan secara bersama-sama guna mencapai tujuan komunikasi.

B.  Aspek Keterampilan Bahasa
Keterampilan bahasa (language skills) mencakup empat keterampilan berikut.
  1. Keterampilan menyimak (listening skills)
  2. Keterampilan berbicara (speaking skills)
  3. Keterampilan membaca (reading skills)
  4. Keterampilan menulis (writing skills)
Keempat keterampilan bahasa itu saling berkait satu sama lain, sehingga untuk mempelajari salah satu keterampilan berbahasa, beberapa keterampilan berbahasa lainnya juga akan terlibat.
  Tabel 1: Empat Aspek Keterampilan Bahasa
Ciri-ciri
Lisan
Tulisan
Reseptif
Mendengarkan
Membaca
Produktif
Berbicara
Menulis

Dalam memperoleh keterampilan berbahasa biasanya kita melalui suatu hubungan urutan yang teratur: mula-mula, pada masa kecil, kita belajar menyimak/mendengarkan bahasa, kemudian berbicara, membaca, dan menulis. Dengan demikian, rangkaian pemerolehan keterampilan berbahasa yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca, kemudian menulis. Keterampilan menyimak dan berbicara kita pelajari sebelum memasuki sekolah, sedangkan keterampilan membaca dan menulis pada umumnya dipelajari di sekolah. Keempat aspek keterampilan bahasa berhubungan satu sama lain.
1. Keterampilan menyimak (listening skills)
Menyimak merupakan salah satu jenis keterampilan berbahasa ragam lisan yang bersifat reseptif. Dengan demikian, menyimak tidak sekadar kegiatan mendengarkan tetapi juga memahaminya. Ada dua jenis situasi dalam menyimak, yaitu situasi menyimak secara interaktif dan situasi menyimak secara noninteraktif. Menyimak secara interaktif terjadi dalam percakapan tatap muka dan percakapan di telepon atau yang sejenisnya. Dalam menyimak jenis ini, kita bergantian melakukan aktivitas menyimak dan berbicara. Oleh karena itu, kita memiliki kesempatan untuk bertanya guna memperoleh penjelasan, meminta lawan bicara mengulang apa yang diucapkan olehnya atau mungkin memintanya berbicara agak lebih lambat. Kemudian, contoh situasi-situasi mendengarkan noninteraktif, yaitu mendengarkan radio, TV, film, khotbah, atau menyimak dalam acara-acara seremonial. Dalam situasi menyimak noninteraktif tersebut, kita tidak dapat meminta penjelasan dari pembicara, tidak bisa pembicara mengulangi apa yang diucapkan, dan tidak bisa meminta pembicaraan diperlambat.
Berikut ini adalah keterampilan-keterampilan mikro yang terlibat ketika kita berupaya untuk memahami apa yang kita dengar, yaitu pendengar harus mampu menguasai beberapa hal berikut:
  1. menyimpan/mengingat unsur bahasa yang didengar menggunakan daya ingat jangka pendek (short-term memory);
  2. berupaya membedakan bunyi-bunyi yang membedakan arti dalam bahasa target;
  3. menyadari adanya bentuk-bentuk tekanan dan nada, warna suara, intonasi, dan adanya reduksi bentuk-bentuk kata;
  4. membedakan dan memahami arti kata-kata yang didengar;
  5. mengenal bentuk-bentuk kata khusus (typical word-order patterns);
  6. mendeteksi kata-kata kunci yang mengidentifikasi topik dan gagasan;
  7. menebak makna dari konteks;
  8. mengenal kelas-kelas kata (grammatical word classes);
  9. menyadari bentuk-bentuk dasar sintaksis;
  10. mengenal perangkat-perangkat kohesif (recognize cohesive devices);
  11. mendeteksi unsur-unsur kalimat seperti subjek, predikat, objek, preposisi, dan unsur-unsur lainnya.
2. Keterampilan berbicara (speaking skills)
Berbicara merupakan salah satu jenis keterampilan berbahasa ragam lisan yang bersifat produktif. Sehubungan dengan keterampilan berbicara ada tiga jenis situasi berbicara, yaitu interaktif, semiinteraktif, dan noninteraktif. Situasi-situasi berbicara interaktif, misalnya percakapan secara tatap muka dan berbicara lewat telepon yang memungkinkan adanya pergantian antara berbicara dan menyimak, dan juga memungkinkan kita meminta klarifikasi, pengulangan atau kita dapat meminta lawan bicara memperlambat tempo bicara dari lawan bicara. Kemudian, ada pula situasi berbicara yang semiinteraktif, misalnya alam berpidato di hadapan umum secara langsung. Dalam situasi ini, audiens memang tidak dapat melakukan interupsi terhadap pembicaraan, namun pembicara dapat melihat reaksi pendengar dari ekspresi wajah dan bahasa tubuh mereka. Beberapa situasi berbicara dapat dikatakan betul-betul bersifat noninteraktif, misalnya berpidato melalui radio atau televisi.
Berikut ini beberapa keterampilan mikro yang harus dimiliki dalam berbicara. Seorang pembicara harus dapat:
  1. mengucapkan bunyi-bunyi yang berbeda secara jelas sehingga pendengar dapat membedakannya;
  2. menggunakan tekanan dan nada serta intonasi yang jelas dan tepat sehingga pendengar dapat memahami apa yang diucapkan pembicara;
  3. menggunakan bentuk-bentuk kata, urutan kata, serta pilihan kata yang tepat;
  4. menggunakan register atau ragam bahasa yang sesuai terhadap situasi komunikasi, termasuk sesuai ditinjau dari hubungan antara pembicara dan pendengar;
  5. berupaya agar kalimat-kalimat utama (the main sentence constituents) jelas bagi pendengar;
  6. berupaya mengemukakan ide-ide atau informasi tambahan guna menjelaskan ide-ide utama;
  7. berupaya agar wacana berpautan secara selaras sehingga pendengar mudah mengikuti pembicaraan.
3. Keterampilan membaca (reading skills)
Membaca merupakan salah satu jenis keterampilan berbahasa ragam tulis yang bersifat reseptif. Keterampilan membaca dapat dikembangkan secara tersendiri, terpisah dari keterampilan menyimak dan berbicara. Tetapi, pada masyarakat yang memiliki tradisi literasi yang telah berkembang, sering kali keterampilan membaca dikembangkan secara terintegrasi dengan keterampilan menyimak dan berbicara.
Keterampilan-keterampilan mikro yang terkait dengan proses membaca yang harus dimiliki pembaca adalah:
  1. mengenal sistem tulisan yang digunakan;
  2. mengenal kosakata;
  3. menentukan kata-kata kunci yang mengidentifikasikan topik dan gagasan utama;
  4. menentukan makna-makna kata, termasuk kosakata split, dari konteks tertulis;
  5. mengenal kelas kata gramatikal: kata benda, kata sifat, dan sebagainya;
  6. menentukan konstituen-konstituen dalam kalimat, seperti subjek, predikat, objek, dan preposisi;
  7. mengenal bentuk-bentuk dasar sintaksis;
  8. merekonstruksi dan menyimpulkan situasi, tujuan-tujuan, dan partisipan;
  9. menggunakan perangkat kohesif leksikal dan gramatikal guna menarik kesimpulan-kesimpulan;
  10. menggunakan pengetahuan dan perangkat-perangkat kohesif leksikal dan gramatikal untuk memahami topik utama atau informasi utama;
  11. membedakan ide utama dari detail-detail yang disajikan;
  12. menggunakan strategi membaca yang berbeda terhadap tujuan-tujuan membaca yang berbeda, seperti skimming untuk mencari ide-ide utama atau melakukan studi secara mendalam.
4. Keterampilan menulis (writing skills)
Menulis merupakan salah satu jenis keterampilan berbahasa ragam tulis yang bersifat produktif. Menulis dapat dikatakan keterampilan berbahasa yang paling rumit di antara jenis-jenis keterampilan berbahasa lainnya. Ini karena menulis bukanlah sekadar menyalin kata-kata dan kalimat-kalimat; melainkan juga mengembangkan dan menuangkan pikiran-pikiran dalam suatu struktur tulisan yang teratur.
Berikut ini keterampilan-keterampilan mikro yang diperlukan dalam menulis, penulis perlu untuk:
  1. menggunakan ortografi dengan benar, termasuk di sini penggunaan ejaan;
  2. memilih kata yang tepat;
  3. menggunakan bentuk kata dengan benar;
  4. mengurutkan kta-kata dengan benar;
  5. menggunakan struktur kalimat yang tepat dan jelas bagi pembaca;
  6. memilih genre tulisan yang tepat, sesuai dengan pembaca yang dituju;
  7. mengupayakan ide-ide atu informasi utama didukung secara jelas oleh ide-ide atau informasi tambahan;
  8. mengupayakan terciptanya paragraf dan keseluruhan tulisan koheren sehingga pembaca mudah mengikuti jalan pikiran atau informasi yang disajikan;
  9. membuat dugaan seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca sasaran mengenai subjek yang ditulis dan membuat asumsi mengenai hal-hal yang belum mereka ketahui dan penting untuk ditulis.
C. Hubungan Antar aspek Keterampilan berbahasa
Hubungan Antar aspek Keterampilan berbahasa
 Image
1.    Hubungan antara Menyimak dan Berbicara
Menyimak dan Berbicara merupakan dua kegiatan yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dalam kegiatan sehari-hari Menyimak(mendengarkan) dan berbicara berlangsung dalam waktu yang bersamaan. Kedua kegiatan ini merupakan proses yang terjadi antara dua orang atau lebih dengan sebuah media yang disebut Bahasa yang dimiliki dan dipahami bersama.
Hubunganya adalah:
  1. keduanya merupakan kegiatan komunikasi tatap muka langsung dua arah
  2. ujaran biasanya dipelajari melalui menyimak dan meniru (imitasi)
  3. kata-kata anak biasanya ditentukan oleh stimulan yang ditemui (misal kehidupan desa tau kota)
  4. ujaran anak mencerminkan pemakaian bahasa disekitarnya baik di rumah, sekolah atau lingkungan masyarakat
  5. anak dapat memahami kalimat lebih panjang dan rumit daripada kalimat yang diucapkannya
  6. meningkatkan menyimak berarti meningkatkan kualitas keterampilan berbicara
  7. ujaran anak baik dan benar bila terbiasa menyimak ujaran yang baik dan benar
  8. berbicara dengan alat peraga membantu penyimak menangkap informasi
2.    Hubungan antara Menyimak dan Membaca
  1. Keduanya merupakan alat untuk menerima komunikasi
  2. Perbedaan keduanya, menyimak menerima informasi dari sumber lisan, membaca dari sumber tertulis
  3. Keterampilan menyimak mempengaruhi keberhasilan membaca efektif
  4. Pengajaran membaca disampaikan oleh guru secara lisan
  5. Anak yang kesulitan membaca lebih banyak belajar dengan menyimak
  6. Menyimak pemahaman lebih mudah diikuti oleh anak daripada membaca pemahaman
  7. Anak membutuhkan bimbingan dalam menyimak
  8. Kosakata simak yang terbatas berkaitan dengan kesukaran membaca
  9. Ada korelasi antara kosakata baca dan kosakata simak
  10. Pendengaran yang kurang baik merupakan salahsatu penyebab ketidakpahaman dalam  membaca
  11. Menyimak sesuatu secara mendadak tidak lebih baik daripada membaca
  12. Terdapat hubungan antara tujuan menyimak dan kegiatan membaca
3.    Hubungan antara Menyimak dan Menulis
  1. Bahan informasi yang digunakan dalam menulis didapatkan melalui kegiatan menyimak.
  2. Menyimak dapat menimbulkan kreatifitas menulis
  3. Dengan melakukan kegiatan menyimak dengan baik maka seseorang akan memiliki pengetahuan yang luas sehingga dengan mudah penyimak dapat menulis dengan baik
  4. Keterampilan menulis mendorong seseorang untuk menggunakan kaidah berfikir dalam kegiatan menyimak
4.     Hubungan antara Berbicara dan Membaca
  1. Performansi atau penampilanmembaca berbeda dengan kecakapan bahasa lisan
  2. Ujaran tunaaksara/buta huruf dapat mengganggu pelajaran membaca bagi anak
  3. Ujaran membentuk suatu dasar bagi pembelajaran membaca dan membaca membantu meningkatkan bahasa lisan
  4. Kosakata khusus mengenai bahan bacaan perlu dipahami sebelum memulai aktifitas membaca
5.     Hubungan antara Berbicara dan Menulis
  1. Keduanya merupakan alat untuk mengekspresikan makna
  2. Ujaran merupakan dasar bagi ekspresi tulis
  3. Diskusi dapat dilakukan sebelum seseorang menulis tentang topik yang belum dikuasainya
  4. Ekspresi tulis lebih terstruktur, tetap, dan jelas dibandingkan ekspresi lisan
  5. Membuat catatan dan bagan atau kerangka ide yang akan disampaikan dalam suatu pembicaraan akan membantu seseorang dalam mengutarakan idenya kepada pendengar
6.     Hubungan antara Membaca dan Menulis
Hubungan antara membaca dan menulis yaitu membaca adalah merupakan proses awal yang melatih dan meningkatkan keterampilan bahasa lisan sehingga mampu mengembangkan keterampilan bahasa tulis dalam bentuk karya sastra.  Secara garis besar hubungan antara membaca dan menulis adalah sebagai berikut :

  1. Membaca (reseptif) dan menulis (produktif)
  2. Menulis adalah kegiatan menyampaikan gagasan, pesan, informasi, sedangkan membaca adalah kegiatan memahami gagasan, perasaan, informasi dalam tulisan
  3. Sebelum menulis, seringkali peulis melakukan aktifitas membaca
  4. Dalam kegiatan membaca, seringkali pembaca menulis atau membuat catatan, bagan, rangkuman, atau komentar
  5. Seringkali kita menulis apa yang kita baca dan membaca apa yang kita tulis

dapat didownload di 


-------------------------------------------------------------------------------------------------
DUKUNG PROGRAM AMAL