Saturday, January 23, 2016

ANALISIS KEMAMPUAN MENYIMAK PADA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA (Penelitian Studi Kasus pada Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri 04 Sintang) Tahun Pelajaran 2014/2015

Dwi Cahyadi Wibowo & Yudita Susanti 
STKIP Persada Khatulistiwa Sintang, Jl. Pertamina-Sengkuang- Sintang  
Kalimantan Barat 
dwicahyadiwibowo@yahoo.co.id 

Abstract 

The general objective of this study '' Listening Capabilities Analyzing Learning Indonesian Students In Class IV at State Elementary School 04 Sintang academic year 2014/2015. The variable in this study is the ability to listen on learning Indonesian. The research method is descriptive method, the form of research is  a case  study. IV class  research subjects with  a total of  45 students,  the  data collection techniques using observation techniques, direct communication engineering, technical documentation and  data  collection  tools  are  observation,  interview,  and  documentation.  Results  of  the  study  as follows: 1) the implementation of learning to listen in class IV run well and smoothly in accordance with the design of learning scenarios designed. In addition, the students follow the learning process very well, learning to respond, asking if the lack of understanding of the material presented by the teacher. 2) The level of listening skills in learning Indonesian students have factors of obstacles and constraints which lead to poor listening skills of students. Such factors may include the lack of student interest, not  paying  attention  to  the  teacher  when  the  teacher explains,  it  resulted  in  uninterrupted listening  process  and  the  learning  process  can  not  be  run properly.  3)  ways  teachers  to  improve students'  listening  skills  to  listen  to  students  overcome difficulties  through  an  effective  learning process, increase the concentration of students in learning, improve student learning spirit to be able to  listen  well.  4)  factors  inhibiting  the  listening  skills  of students  in  the  fourth  grade  that  include aspects of the physiological and psychological aspects. Based on the results of research in general on the analysis of listening skills in learning Indonesian (case studies in class IV Sintang State Primary School 04 in the school year 2014/2015) can run well and smoothly as expected. 

Keywords: Listening Capabilities

Abstrak

Tujuan  umum  penelitian  ini  ‗‘Menganalisis  Kemampuan  Menyimak  Siswa  Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas IV Sekolah Dasar Negeri 04 Sintang Tahun Pelajaran 2014/2015. Variabel dalam  penelitian  ini  adalah  kemampuan  menyimak  pada  pembelajaran  Bahasa  Indonesia. Metode penelitian adalah metode deskriptif, bentuk  penelitian  adalah  studi  kasus.  Subjek penelitian  kelas  IV  dengan  jumlah keseluruhan 45 siswa, teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, teknik  komunikasi  langsung,  teknik  dokumentasi  dan  alat  pengumpulan  data adalah  observasi, panduan  wawancara,  dan  studi  dokumentasi.  Hasil  penelitian  sebagai  berikut: 1)  pelaksanaan pembelajaran    menyimak    di    kelas    IV  berjalan  dengan  baik  dan  lancar sesuai  dengan  rancangan  skenario pembelajaran yang dirancang.  Selain  itu  juga  siswa mengikuti proses pembelajaran dengan baik, merespon pembelajaran, bertanya jika kurang memahami materi yang disampaikan oleh guru. 2) Tingkat kemampuan menyimak pada pembelajaran Bahasa Indonesia siswa  memiliki  faktor-faktor  hambatan    dan    kendala    yang  mengakibatkan  kemampuan menyimak  siswa  kurang  baik.    Faktor tersebut  dapat  berupa    kurangnya    minat    belajar   siswa,    tidak    memperhatikan    guru    saat    guru menjelaskan, hal tersebut mengakibatkan proses menyimak terganggu dan proses belajar  tidak  dapat berjalan  dengan  baik.  3)  cara  guru  untuk meningkatkan kemampuan  menyimak  siswa  mengatasi  kesulitan  menyimak  siswa  baik  melalui proses  pembelajaran  yang  efektif,    meningkatkan  daya  konsentrasi    siswa    pada  pembelajaran, meningkatkan  semangat  belajar  siswa  agar  bisa  menyimak dengan  baik.  4)  faktor  penghambat dalam  kemampuan  menyimak  siswa  di  kelas  IV  yakni  meliputi aspek  fisiologis  dan  aspek psikologis.  Berdasarkan  hasil  penelitian  secara  umum  tentang  analisis kemampuan menyimak pada pembelajaran Bahasa Indonesia  (studi kasus di kelas IV Sekolah Dasar 
Negeri 04 Sintang Tahun Pelajaran 2014/2015) dapat berjalan dengan baik dan lancar sesuai dengan 
yang diharapkan. 

Kata kunci: Kemampuan Menyimak

Download Prosiding https://drive.google.com/file/d/0B6ZftmSvg2vtaWpKcUlqNjVCb3M/view?usp=sharing

atau

https://drive.google.com/file/d/0B6ZftmSvg2vteHVLSHZOLWZlZW8/view?usp=sharing

Online Journal System http://journal.unwidha.ac.id/index.php/proceeding/issue/view/126

atau http://journal.unwidha.ac.id/index.php/proceeding/article/view/671

Saturday, January 16, 2016

HUBUNGAN PEMAHAMAN MATERI HAK ASASI MANUSIA DENGAN PERILAKU SISWA PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN KELAS X DI SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1 KETUNGAU TENGAH TAHUN PELAJARAN2015/2016

Manto Atmojo, Dwi Cahyadi Wibowo, Elvi Juliansyah
STKIP Persada Khatulistiwa Sintang, Jl. Pertamina Sengkuang Sintang Kalimantan Barat

Abstrak: Masalah umum dalam penelitian ini adalah seberapa besar hubungan pemahaman materi HAM  dengan perilaku siswa pada mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan kelas X  di SMA Negeri 1 Ketungau Tengah ? Tujuan umum dalam penelitian ini adalah “untuk mengetahui seberapa besar hubungan pemahaman materi HAM dengan perilaku siswa pada mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan kelas X  di SMA Negeri 1 Ketungau Tengah. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan bentuk penelitian korelasi. Populasi di penelitian ini 148 siswa dan  sampel 30 siswa.Teknik dan alat pengumpulan data menggunakan teknik komunikasi tidak langsung dan teknik studi dokumentasi, alat pengumpulan data menggunakan angket dan dokumentasi. Berdasarkan hasil rata-rata pemahaman materi HAM kelas X SMA Negeri 1 Ketungau Tengah memperoleh skor rata-rata 85,26, sedangkan perilaku Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Ketungau Tengah setelah mempelajari materi HAM pada mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan dengan hasil nilai perilaku siswa mendapat rata-rata 54,43. Dari hasil uji hipotesis, diperoleh hasil thitung sebesar 4,589 dan ttabel sebesar 2,048 artinya hipotesis alternatif (Ha) diterima dan hipotesis nol (H0) ditolak. Disimpulkan, bahwa terdapat hubungan yang signifikan Pemahaman Materi HAM dengan perilaku siswa pada mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan.

Kata Kunci: Pemahaman Materi Hak Asasi Manusia, Perilaku Siswa

website resmi penerbit artikel jurnal : http://ppkn.org/wp-content/uploads/2012/11/Kumpulan-Abstract-Vol-4-No-1-Jan-2016.pdf

jurnal lengkap dapat didownload di https://drive.google.com/file/d/0B6ZftmSvg2vtaC1wVmUyY0ZlY1U/view?usp=sharing

Wednesday, November 25, 2015

Kurikulum KTSP

2.1 Pengertian Kurikulum KTSP
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah.
KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang beragam mengacu pada standar nasional pendidikan untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional. Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi(SI), proses, kompetensi lulusan(SKL), tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan. Dua dari kedelapan standar nasional pendidikan tersebut, yaitu Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 (UU 20/2003) tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 (PP 19/2005) tentang Standar Nasional Pendidikan mengamanatkan kurikulum pada KTSP jenjang pendidikan dasar dan menengah disusun oleh satuan pendidikan dengan mengacu kepada SI dan SKL serta berpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan(BSNP).

Selain dari itu, penyusunan KTSP juga harus mengikuti ketentuan lain yang menyangkut kurikulum dalam UU 20/2003 dan PP 19/2005. Panduan yang disusun BSNP terdiri atas dua bagian, yaitu:
Pertama, Panduan Umum yang memuat ketentuan umum pengembangan kurikulum yang dapat diterapkan pada satuan pendidikan dengan mengacu pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang terdapat dalam SI dan SKL.Termasuk dalam ketentuan umum adalah penjabaran amanat dalam UU 20/2003 dan ketentuan PP 19/2005 serta prinsip dan langkah yang harus diacu dalam pengembangan KTSP.
Kedua, model KTSP sebagai salah satu contoh hasil akhir pengembangan KTSP dengan mengacu pada SI dan SKL dengan berpedoman pada Panduan Umum yang dikembangkan BSNP. Sebagai model KTSP, tentu tidak dapat mengakomodasi kebutuhan seluruh daerah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan hendaknya digunakan sebagai referensi.
Kurikulum KTSP memiliki beberapa landasan yang dijadikan acuan dalam pengembangannya, diantaranya yaitu: 
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 
Ketentuan dalam UU 20/2003 yang mengatur KTSP, adalah Pasal 1 ayat (19); Pasal 18 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 32 ayat (1), (2), (3); Pasal 35 ayat (2); Pasal 36 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 37 ayat (1), (2), (3); Pasal 38 ayat (1), (2). 
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. 
Ketentuan di dalam PP 19/2005 yang mengatur KTSP, adalah Pasal 1 ayat (5), (13), (14), (15); Pasal 5 ayat (1), (2); Pasal 6 ayat (6); Pasal 7 ayat (1), (2), (3), (4), (5), (6), (7), (8); Pasal 8 ayat (1), (2), (3); Pasal 10 ayat (1), (2), (3); Pasal 11 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 13 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 14 ayat (1), (2), (3); Pasal 16 ayat (1), (2), (3), (4), (5); Pasal 17 ayat (1), (2); Pasal 18 ayat (1), (2), (3); Pasal 20. 
Standar Isi (SI) 
SI mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Termasuk dalam SI adalah : kerangka dasar dan struktur kurikulum, Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) setiap mata pelajaran pada setiap semester dari setiap jenis dan jenjang pendidikan dasar dan menengah. SI ditetapkan dengan Kepmendiknas No. 22 Tahun 2006. 
Standar Kompetensi Lulusan (SKL) 

SKL merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan sebagaimana yang ditetapkan dengan Kepmendiknas No. 23 Tahun 2006.

Pengembangan kurikulum KTSP mempunyai tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum dari kurikulum KTSP ialah untuk memandirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada lembaga pendidikan dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam pengembangan kurikulum. Sedangkan tujuan khusus dari kurikulum KTSP ialah: 
Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum, mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia. 
Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum melalui pengambilan keputusan bersama. 
Meningkatkan kompetisi yang sehat antar satuan pendidikan tentangkualitas pendidikan yang akan dicapai. 


2.2 Kelebihan dan Kelemahan Kurikulum KTSP
Setiap kurikulum yang diberlakukan di Indonesia memiliki kelebihan masing-masing, tergantung pada situasi dan kondisi pada saat kurikulum diberlakukan. Kelebihan-kelebihan KTSP ini antara lain: 
Mendorong terwujudnya otonomi sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan. Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu bentuk kegagalan pelaksanaan kurikulum di masa lalu adalah adanya penyeragaman kurikulum di seluruh Indonesia, tidak melihat kepada situasi riil di lapangan, dan kurang menghargai potensi keunggulan lokal. 
Mendorong para guru, kepala sekolah, dan pihak manajemen sekolah untuk semakin meningkatkan kreativitasnya dalam penyelenggaraan program-program pendidikan. 
KTSP sangat memungkinkan bagi setiap sekolah untuk menitikberatkan dan mengembangkan mata pelajaran tertentu yang akseptabel bagi kebutuhan siswa. Sekolah dapat menitikberatkan pada mata pelajaran tertentu yang dianggap paling dibutuhkan siswanya. Sebagai contoh daerah kawasan wisata dapat mengembangkan kepariwisataan dan bahasa inggris, sebagai keterampilan hidup. 
KTSP akan mengurangi beban belajar siswa yang sangat padat. Karena menurut ahli beban belajar yang berat dapat mempengaruhi perkembangan jiwa anak. 
KTSP memberikan peluang yang lebih luas kepada sekolah-sekolah plus untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan. 
Guru sebagai pengajar, pembimbing, pelatih dan pengembang kurikulum. 
Kurikulum sangat humanis, yaitu memberikan kesempatan kepada guru untuk mengembangkan isi/konten kurikulum sesuai dengan kondisi sekolah, kemampuan siswa dan kondisi daerahnya masing-masing. 
Menggunakan pendekatan kompetensi yang menekankan pada pemahaman, kemampuan atau kompetensi terutama di sekolah yang berkaitan dengan pekerjaan masyarakat sekitar. 
Standar kompetensi yang memperhatikan kemampuan individu, baik kemampuan, kecakapan belajar, maupun konteks social budaya. 
Berbasis kompetensi sehingga peserta didik berada dalam proses perkembangan yang berkelanjutan dari seluruh aspek kepribadian, sebagai pemekaran terhadap potensi-potensi bawaan sesuai dengan kesempatan belajar yang ada dan diberikan oleh lingkungan. 
Pengembangan kurikulum di laksanakan secara desentralisasi (pada satuan tingkat pendidikan) sehingga pemerintah dan masyarakat bersama-sama menentukan standar pendidikan yang dituangkan dalam kurikulum. 
Satuan pendidikan diberikan keleluasaan untyuk menyususn dan mengembangkan silabus mata pelajaran sehingga dapat mengakomodasikan potensi sekolah kebutuhan dan kemampuan peserta didik, serta kebutuhan masyarakat sekitar sekolah. 
Guru sebagai fasilitator yang bertugas mengkondisikan lingkungan untuk memberikan kemudahan belajar siswa. 
Mengembangkan ranah pengetahuan, sikap, dan ketrampilan berdasarkan pemahaman yang akan membentuk kompetensi individual. 
Pembelajaran yang dilakukan mendorong terjadinya kerjasama antar sekolah, masyarakat, dan dunia kerja yang membentuk kompetensi peserta didik. 
Evaluasi berbasis kelas yang menekankan pada proses dan hasil belajar. 
Berpusat pada siswa. 
Menggunakan berbagai sumber belajar. 
kegiatan pembelajaran lebih bervariasi, dinamis dan menyenangklan 

Selain dari kelebihan-kelebihan diatas, terdapat juga kekurangan dari kurikulum KTSP, diantaranya yaitu: 
Kurangnnya SDM yang diharapkan mampu menjabarkan KTSP pada kebanyakan satuan pendidikan yang ada. Minimnya kualitas guru dan sekolah. 
Kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana pendukung sebagai kelengkapan dari pelaksanaan KTSP . 
Masih banyak guru yang belum memahami KTSP secara komprehensif baik kosepnya, penyusunannya,maupun prakteknya di lapangan 
Penerapan KTSP yang merekomendasikan pengurangan jam pelajaran akan berdampak berkurangnya pendapatan guru. Sulit untuk memenuhi kewajiban mengajar 24 jam, sebagai syarat sertifikasi guru untukmendapatkan tunjangan profesi.

2.3 Pengembangan Kurikulum KTSP di Sekolah Dasar Swasta
Sebenarnya tidak terhitung banyaknya prinsip yang dapat digunakan dalam pengembangan kurikulum. Kurikulum pada jenjang pendidikan manapun biasanya dikembangkan dengan menganut prinsip-prinsip tertentu, prinsip yang dianut merupakan kaidah yang menjiwai kurikulum itu. Pada dasarnya guru harus bisa menerapkan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yang telah ditentukan oleh para pengambil keputusan, namun demikian khususnya pada tataran pelaksanaan kurikulum di sekolah, bisa juga diciptakan sendiri prinsip-prinsip baru. Karena itu selalu mungkin terjadi suatu kurikulum sekolah menggunakan prinsip-prinsip yang berbeda dengan yang digunakan dalam kurikulum sekolah lainnya. Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum biasanya ditulis secara eksplisit dalam buku atau dokumen kurikulum sekolah. Implementasi dari prinsip-prinsip pengembangan kurikulum tersebut dapat dikaji atau dipelajari dalam keseluruhan isi buku kurikulum tersebut, dalam pelaksanaan kurikulum, dan evaluasi kurikulum. Sering terjadi implementasi prinsip-prinsip kurikulum itu sukar diidentifikasi, bahkan kadang-kadang yang nampak menonjol justru terjadinya peristiwa-peristiwa kurikuler yang menyimpang dari prinsip-prinsip yang digunakan dalam pengembangan kurikulum itu. Penyimpangan tersebut dapat diakibatkan oleh banyak hal, seperti: 
Pencantuman prinsip-prinsip dalam buku kurikulum itu hanya bersifat proforma,artinya hanya sekadar menaati langkah-langkah pengembangan kurikulum atau untuk menimbulkan kesan bahwa suatu kurikulum mendukung nilai-nilai luhur tertentu, terutama yang bersifat politis atau ilmiah. 
Prinsip-prinsip tersebut tidak dihayati oleh para pengembang kurikulum, pelaksana kurikulum dan hasil evaluasi kurikulum tidak menunjukkan adanya kandungan nilai dari prinsip-prinsip pengembangan kurikulum tersebut. 
Situasi dan kondisi di tempat kurikulum itu dilaksanakan telah berkembang dan tidak mungkin menerapkan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum itu. 

Dalam kondisi seperti itu, suatu kurikulum dapat dikatakan tidak lagi mengemban fungsi yang sebenarnya, kurikulum itu berjalan secara semu. Memang demikianlah kenyataannya yang dialami oleh sejumlah kurikulum, apalagi bagi kurikulum yang telah lama sekali tidak direvisi. Setiap kurikulum harus didasarkan pada prinsip yang terbaik (excellence) agar setiap siswa dapat mencapai yang terbaik bagi diri dan lingkungannya. Tiap siswa harus berpegangan pada standar yang sesuai dengan kemampuannya baik pada aspek moral, etik, pengetahuan, ataupun aspek lainnya. Mengingat bahwa setiap siswa mempunyai bakat, minat dan motivasi yang berbeda, maka perbedaan itu perlu juga dipertimbangkan sehingga tidak hanya satu standar kualitas yang ditentukan untuk semuanya. Kaitannya dengan kebijakan, pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang saat ini diberlakukan diIndonesia, secara umum didasarkan pada prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yang tertera dalam UU No.20/2003 (pasal 36), yaitu bahwa:
(1) pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional,
(2) kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan siswa,
(3) kurikulum disusun sesuai jenjang pendidikan dalam kerangka NKRI dengan memperhatikan: (a) peningkaatan iman dan takwa, (b) peningkatan akhlak mulia, (c) peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat siswa, (d) keragaman potensi daerah dan lingkungan, (e) tuntutan pembangunan daerah dan nasional, (f) tuntutan dunia kerja, (g) perkembang-an IPTEK dan seni, (h) agama, (i) dinamika perkembangan global, dan (j) persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.

Secara lebih khusus, KTSP dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum sebagai berikut.
1. Berpusat pada Potensi, Perkembangan, Kebutuhan, dan Kepentingan Siswa dan Lingkungannya.
Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa siswa memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi siswa disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan siswa serta tuntutan lingkungan. Memiliki posisi sentral berarti kegiatan pembelajaran berpusat pada siswa.

2. Beragam dan Terpadu
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik siswa, kondisi daerah, jenjang dan jenis pendidikan, serta menghargai dan tidak diskriminatif terhadap perbedaan agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan jender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antarsubstansi.

3. Tanggap terhadap Perkembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan
Seni
Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang berkembang secara dinamis. Karena itu, semangat dan isi kurikulum memberikan pengalaman belajar siswa untuk mengikuti dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

4. Relevan dengan Kebutuhan Kehidupan
Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. Karena itu, pengembangan keterampilan pribadi, keterampilan berpikir, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan.

5. Menyeluruh dan Berkesinambungan
Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antarsemua jenjang pendidikan.

6. Belajar Sepanjang Hayat
Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan siswa yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal, dan informal dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.


7. Seimbang antara Kepentingan Nasional dan Kepentingan Daerah.
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


Dalam pelaksanaannya, KTSP menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a. Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi, perkembangan dan kondisi siswa untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. Dalam hal ini siswa harus mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu, serta memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas, dinamis dan menyenangkan.

b. Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar, yaitu:
(a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (b) belajar untuk memahami dan menghayati, (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif, (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri, melalui proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

c. Pelaksanaan kurikulum memungkinkan siswa mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan, pengayaan, dan/atau percepatan sesuai dengan potensi, tahap perkembangan, dan kondisi siswa dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi siswa yang berdimensi ke-Tuhanan, keindividuan, kesosialan, dan moral.

d. Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan siswa dan pendidik yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka, dan hangat, dengan prinsip tut wuri handayani, ing madia mangun karsa, ing ngarsa sung tulada (di belakang memberikan daya dan kekuatan, di tengah membangun semangat dan prakarsa, di depan memberikan contoh dan teladan).

e. Kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar, dengan prinsip alam takambang jadi guru (semua yang terjadi, tergelar dan berkembang di masyarakat dan lingkungan sekitar serta lingkungan alam semesta dijadikan sumber belajar, contoh dan teladan).

f. Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam, sosial
dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan muatan seluruh bahan kajian secara optimal.

g. Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran, muatan lokal dan pengembangan diri diselenggarakan dalam keseimbangan, keterkaitan, dan kesinambungan yang cocok dan memadai antarkelas dan jenis serta jenjang pendidikan.

Adapun isi Kurikulum KTSP untuk masing-masing Mata pelajaran sebagai berikut: 

download isi kurikulum 1. Matematika 
download isi kurikulum 2. IPA 
download isi kurikulum 3. IPS 
download isi kurikulum 4. Bahasa Indonesia 
download isi kurikulum 5. PKn 
download isi kurikulum 6. Agama 
download isi kurikulum 7. Penjas 
download isi kurikulum 8. Bahasa Inggris